Menulis memang suatu hal yang susah-susah gampang. Terlebih ketika kita harus menulis di internet, sebuah media yang dapat bebas diakses oleh orang, baik yang kita kenal maupun tidak. Menulis sebuah pengalaman liburan di sebuah blog bisa jadi sebuah hal yang mudah mengalir, namun bagaimana bila yang kita tuliskan haruslah sebuah tugas dari mata kuliah? Ya.. kuliah Creative and Innovation adalah sebuah mata kuliah electives di SBM yang secara sukarela dan sepenuh hati saya pilih. Mata kuliah ini memang mewajibkan mahasiswanya untuk selalu menulis menulis dan menulis di blog pribadi, bahkan sesekali di blog kelompok. Blog ini memang bukan blog pertama saya. Sebelumnya saya sudah memiliki blog di blogspot meskipun jarang diupdate karena keterbatasan waktu luang (sombong). Pada akhirnya, saya cenderung lebih sering bertengger di tumblr, sebuah situs microblogging yang lagi ngetrend saat ini. Namun sepertinya tumblr gagal menstimulsi saya untuk kembali menulis, melainkan hanya melakukan reblog dari post orang.

Menulis pada awalnya sebuah hal yang sulit bagi saya. Memikirkan topiknya saja bisa jadi membuat saya kehilangan mood untuk menulis. Setelah mendapat ide dan mulai menulis… Kita stuck pada kalimat pertama dan ga maju maju.

Perubahan terjadi, pada hari pertama Pak Agus memberikan tugas mata kuliah tentang implementasi nama tiba-tiba semuanya terasa gampang. Saya menulis tiada henti hingga tak sadar jumlah word count yang tertera di ujung kiri bawah di kolom add new post sudah mencapai ribuan kata.

Namun perjuangan belum usai. Setelah saya menyelesaikan tulisan saya, saya enggan meng-click publish. Saya bolak-balik men-check apakah ada tulisan yang salah, kata-kata yang aneh, dan lain-lain. Ada perasaan takut salah, takut ga menarik, takut tulisan saya ga ada yang baca, bahkan takut tulisan saya diketawain orang. Terlebih lagi di kuliah pertama, Kak Bayu si tutor gaul bilang kalo setiap kita nge-post tugas harus di share ke twitter alamat linknya dan mention ke @mb4048. Lebih-lebihnya, si Kak Bay bilang kalo postingan kita harus ada yang ngisi comment. Hmmmmm…

Sampai pada akhirnya saya meng-click publish…. Jujur pas Pak Agus (sebagai orang yang ngasih comment pertama di blog wp saya) ngedrop comment di post pertama saya, saya langsung jejingkrakan haha. Ya senggaknya si Pak Dosen maulah mampir2 ke tulisan saya. Senggaknya rasa percaya diri untuk terus menulis dan ga ngedrop mata kuliah ini kembali muncul. Ya begitulah kira-kira sekilas cerita di minggu awal.

Minggu-minggu selanjutnya, saya semakin senang untuk menulis. Memang pada awalnya saya senang menulis karena topik tulisan telah tersedia, namun lama-lama saya enjoy dalam mengembangkan ide dari topik yang diberikan Pak Agus. Saya selalu berusaha mengerjakan tugas mata kuliah ini duluan sebelum yang lainnya. Alasannya? Karena tugas ini tuh relaxing abis… Haha! Seru deh. Tugas demi tugas saya secara kerjain dan saya ngerasa ilmu saya bertambah pesat. Kenapa? Karena saya tuh suka banget memperindah tulisan saya dengan foto-foto atau video. Dengan nge-search keyword di google, biasanya akan muncul banyak hal yang akhirnya saya buka, baca, dan nambah deh ilmunya. Browsing jadi ngga sekedar main-main doang. Bahkan ilmu yang diajarin di CI somehow berhubungan dengan mata kuliah business pada umumnya dan gampang banget diimplementasiin ke dunia nyata, jadi walaupun banyak yang bilang kalo kuliah CI itu gabut dan sedikit ilmunya, saya super ga setuju karena apa yang saya dapetin disini luar biasa…

Unxpected Outcome

  • Saya nggak nyangka kalo twitter dan facebook segitu cepetnya menyebar informasi. Pada awalnya saya ga pernah ngepost link saya di twitter atau facebook. Setelah posting ketiga atau empat, saya mencoba post link saya ke facebook. Setelah itu wuuss wuss pengunjung blog saya jadi pesat. Yaa meskipun ngga semuanya comment, tapi melihat site stats yang bertambah terus bikin hati riang senang ceria.
  • Selain itu, tanpa disadari dengan menulis di blog kita bisa berbagi ilmu yang kita dapet dengan cara kita sendiri ke orang-orang di luar sana. Ngga nyangka banget tiba-tiba temen lama saya bisa dapet link blog saya ini dan suka sama sebuah blog saya dan meminta ijin untuk share link postingan saya itu ke situs microblogging dia.
  • Dengan saya menuliskan bahan kuliah yang dipelajari di blog, saya jadi lebih ngerti dan ‘dapet’ ilmunya. Saya jadi lebih mudah untuk mengekspresikan ide inovatif saya secara kreatif melalui tulisan.
  • Satu hal lagi yang ngga saya sangka, bahkan menuliskan ide kita di media terbuka ini bisa mempertemukan kita dengan orang lain yang ternyata juga memiliki ide yang sama atau hampir sama dengan kita. Sebagai mahasiswa bisnis, saya pikir ini adalah hal yang menguntungkan dan memudahkan untuk bertemu dengan future business partner kita.

Kuliah ini memang sudah hampir berakhir… Satu kata yang bisa saya katakan hanyalah: SERU! Terimakasih Pak Agus telah membuat saya jadi kembali bersemangat menulis di blog. Tapi… saya butuh semangat untuk menulis di Tugas Akhir saya. Aaaaaa…..

Advertisements

Pada sadar ngga sih kalo makanan tuh adalah hobi setiap orang, malah makan itu adalah sebuah kebutuhan bagi tiap manusia? Hmm makanan kesukaan kalian apa? Banyak orang-orang cenderung menjawab makanan Barat, Sushi, dan lainnya. Kita sebagai orang Indonesia sebenernya harus bangga lho karena Indonesia mencakup dari Sabang hingga Merauke, dan di setiap daerahnya memiliki makanan khas-nya masing-masing yang rasanya nggak kalah mantap untuk disantap dibandingkan dengan makanan para bule.

Nah di tugas ini, Pak Agus Ngger meminta kita membuat bisnis model dari (pilih: stasiun tv, operator HP, atau social network. Nah karena makan adalah hobi saya, maka saya akan membuat bisnis model dari sebuah stasiun tv yang isinya penuhh makanan, nyamnyamnyam.

Nah, dilihat dari business modelnya, value yang ditawarkan oleh IFC adalah:

  • 24 hours one stop cookingtainment channel that provide education about Indonesian culinary to increase the nationality of Indonesian people with entertaining way.

Jadi, bagi kalian yang suka masak nggak usah lagi nunggu-nunggu jadwal acara masak yang kadang-kadang ngga pas sama kegiatan kita. Karena, dengan hadirnya IFC kalian bisa mantengin TV dengan berbagai makanan yang tempting abis, NYAMM!

Target Customer dari stasiun TV ini adalah:

  • Pria atau wanita. Umur: balita keatas (haha, karena acara masak disini ada yang mudah dan dapat dilakukan oleh anak kecil)
  • Advertisers. Bisa majalah, koran, iklan, website, dan lain-lain
  • Restaurant.
  • Chef.
  • Culinary Academy.
  • Event Organizer.

Nah gimana cara distribusi value IFC sampe bisa dinikmati sama customer? Berikutlah distribution channel-nya:

  • Cable TV.
  • Live Streaming with subscription.
  • Magazine.
  • Newspaper.
  • IFC Recipe Book.

Cara kita maintain hubungan baik sama customer (customer relationship), antara lain adalah:

  • IFC Hotline
  • Discount card from partner restaurant
  • Weekly Quiz  to win: travel with Indonesian famous chef

Naah apa aja sih yang IFC lakukan untuk mencapai value yang akan dinikmati customer? Berikut adalah core capability dari IFC, yaitu memberikan tayangan tentang:

  • Recommended restaurant review
  • HOW TO COOK: daily Indonesian food, Indonesian food for Special Occasion
  • Cooking Competition
  • Talk show with Chef
  • Cooking Tips and Trick
  • Innovation to Indonesian Food
  • TRAVEATING. Ini adalah acara dimana team IFC akan mengunjungi sebuah daerah di Indonesia, kemudian membahas tentang makanan khas daerah setempat. Sekaligus melihat bagaimana orang asli daerah setempat memasak makanan tersebut.

Contoh Tayangan Cooking with Chef @IFC

Untuk bisa lancar, dalam kegiatannya IFC memiliki partner networks yang mendukung segala acara IFC, yaitu:

  • Indonesian Restaurant
  • Chefs
  • Culinary Academy
  • Food Manufacturer
  • Kitchen Utensils Company
  • Travel Agent/Airline

Nah inilah activity configuration dari IFC:

  • Producer
  • Scriptwriter
  • TV Broadcast Company
  • Event Management
  • Advertisement Management

Karena setiap bisnis pasti ujung2nya untung earn revenue, jadi marilah kita bahas tentang FINANCE!

COST STRUCTURE

  • Production Cost
  • Salary
  • Publishing Cost (Recipe Book)

REVENUE

  • Advertising
  • Subscription Live Streaming Payment
  • Payment of Cable TV subscription
  • Talkshow Ticket entry payment
  • Royalty and profit from the Recipe books

IFC Website


Mimpi, impian… Pasti tiap orang punya impian, keinginan. Saya yakin tanpa impian, hidup seseorang bakalan monoton gitu-gitu aja. Ngga ada sesuatu yang dikejar.

Beberapa orang suka bilang: “Mimpi sih boleh, tapi yang masuk akal.. Mbok ya jangan ngayal”. Eits, sebenernya mimpi sama ngayal 11-12 lho. Pernah denger sejarah ditemuinnya pesawat terbang ngga sih? (Efek ngerjain TA -> ngomonginnya jadi tentang pesawat terus hehe maaf yah). Nah, kakak beradik Wright ini dulu tuh penasaran banget dan pengen bikin orang yang konon ngga bisa terbang, jadi bisa terbang. Teman-teman yang mengetahui keinginan dan mimpi Wright bersaudara ngakak abis-abisan dan pada mencoba menghentikan niat Wright. Tapi, mereka berdua keukeuh banget dan mengusahakan seluruh kemampuan mereka untuk membuat pesawat terbang yang sekarang bisa memudahkan kita bepergian dan tentu menghemat waktu untuk menjumpai sanak saudara kita yang berada jauh di pulau atau negara lain. Mimpi Wright menjadi nyata…. Kenyataan yang berawal dari mimpi, mimpi yang dianggap tidak mungkin. Bayangkan!

Papa saya pernah cerita tentang Epcot. Epcot, the Experimental Prototype Community of Tomorrow, dibuka tahun1982. Ini adalah tempat yang dibuat oleh Walt Disney to: “take its cue from the new ideas and new technologies that are now emerging from the creative centers of American industry.” Disana ada prototype dari barang-barang aneh yang kita ngga pernah tau kapan itu jd nyata. Waktu papa saya ksana akhir tahun 85an, papa saya lihat sebuat prototype alat komunikasi yang bisa dibawa kemana-mana dan handy dan dapat menghubungkan dua orang di tempat berbeda dengan saling bertatap wajah. Saat itu boro-boro ada handphone, gimana mau kepikir alat secanggih itu. Saat itu orang-orang pada mikir kalo itu cuma mimpi dan khayalan. Tapi lihat sekarang, itu kan handphone dengan teknologi videocall. Teknologi secanggih ini aja bahkan sekarang sepertinya udah ga canggih-canggih amat dibanding inovasi lainnya….. Tapi, keraguan orang2 di tahun 85 itu terjawab sudah kan?

Nggak beda sama apa yang dilakuin Docomo. Video-video docomo yang bikin mata kita terbelalak setiap kita nonton dan kadang mikir “Gile kapan nih bisa gini, kayanya ga mungkin. Disitu tulisannya 2020, sekarang aja udah 2011. Hmm kayanya ga mungkin deh”. Eits tunggu dulu… Ga ada yang ga mungkin lagi. Bahkan saya sangat terpukau dan salut dengan semangat berinovasi-nya docomo. Bahkan docomo tuh ga takut sama pandangan orang mau ngomong apa. Meskipun saya pun gatau pasti keyakinan mereka dalam merealisasikan mimpi mereka ini real apa nggak, tapi semangat bermimpi mereka telah menstimulsi orang-orang inovatif dimanapun untuk ikut bermimpi.

Seperti pada namanya, DoCoMo adalah singkatan dari”do communications over the mobile network“, dan ini adalah kata dari bahasa Jepangdokomo” yang memiliki arti “everywhere”. Goals dari perusahaan ini emang untuk mengeliminir batasan waktu, tempat agar people everywhere can meet easily, can communicate easily.

Nah, bagus kan mimpi-mimpi DoCoMo ini. Setelah nonton video ini, marilah kita bermimpi, eits bukan maksudnya disuruh bobo haha. Hmm marilah kita bermimpi, mimpi itu tahap awal dari inovasi lhoo.. Mimpi yang terealisasi bakal jadi inovasi yang oke banget.

If you can dream it, you can do it! -Walt Disney